Halaman

Kamis, 08 November 2012

Filsafat Ilmu



REVIEW  FILSAFAT ILMU

1.      Arti dan Perkembangan Filasafat Ilmu
Filsafat ilmu adalah merupakan bagian dari filsafat yang menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Bidang ini mempelajari dasar-dasar filsafat, asumsi dan implikasi dari ilmu, yang termasuk di dalamnya antara lain ilmu alam dan ilmu sosial.
Filsafat ilmu berusaha untuk dapat menjelaskan masalah-masalah seperti: apa dan bagaimana suatu konsep dan pernyataan dapat disebut sebagai ilmiah, bagaimana konsep tersebut dilahirkan, bagaimana ilmu dapat menjelaskan, memperkirakan serta memanfaatkan alam melalui teknologi; cara menentukan validitas dari sebuah informasi; formulasi dan penggunaan metode ilmiah; macam-macam penalaran yang dapat digunakan untuk mendapatkan kesimpulan; serta implikasi metode dan model ilmiah terhadap masyarakat dan terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri.
Arti filsafat yakni mencari hakikat suatu ilmu, dimana dalam filsafat ini terdapat beberapa istilah yaitu metode ilmiah yang berisikan deduktif dan induktif, positivisme yang artinya menguji teori yang sudah ada, post positivisme merupakan konfirmasi teori dan eksplanasi teori, dan post modernisme yaitu eksplanasi teori dalam hal ini benar-benar  untuk menemukan teori baru.
Perkembangan filsafat ilmu yaitu pada era 1960-1995 (matinya positivime logic) munculnya pengukuran kuantitatif ke meta science. Kemudian pada era Mutakhir  tahun 2000-an yakni ilmu berkembang dalam konteks postmodernisme. Ragam perkembangan filasafat yaitu metaideologi, metaphisik, dan metodologi disiplin ilmu mensucikan batin manusia. Arti meta dalam hal ini yaitu telah mengalami perkembangan dari spekulatif ke teorinya teori atau positivistic dan berkembang ke ethic atau metaphisik.
Tugas dari filsafat ilmu yaitu memberi landasan filosofik untuk minimal memahami beberapa konsep dan teori suatu disiplin ilmu, sampai membekalkan kemampuan untuk membangun teori ilmiah.


2.      Obyek Filsafat Ilmu
Obyek filsafat ilmu terdiri atas 2 yaitu telaah substantif dan telaah instrumentatif.
a.       Substantif
Telaah substantive terdiri dari fakta/ kenyataan dan kebenaran. Fakta atau kenyataan dapat dijelaskan secara empirik yaitu sesuatu yang bisa dihayati oleh manusia, atau bisa juga secuil pengetahuan yang menjadi raw material ( bahan dasar ) bagi perumusan hukum atau teori. Secara rasionalistik (bisa diterima akal) yang nyata itu yang ada dan cocok dengan akal. Bagi pendekatan phenomenologik yang nyata itu terkonstruk dalam moral. Bagi positivistik : yang nyata itu yang faktual ada. Bagi rasionalistik : yang nyata itu yang ada dan cocok dengan akal. Bagi realisme: yang nyata itu yang riil exist dan terkonstruk dalam kebenaran obyektif.
Fakta juga merupakan suatu proses atau hasil proses yang menunjukkan kesesuaian atau kesamaan antara pikiran manusia yang bersifat runtut (koheren, konsisten), logis dan saling berhubungan, yang membentuk sistem mengenai obyek tertentu  dengan keadaa senyatanya dari obyek tersebut dan bermanfaat (pragmatis) untuk kehidupan sehari-hari. Sedangkan ide mengemukakan aspek relasional pengalaman, mencitrakan pengalaman sensual, bukan menjabarkannya. Berbeda pula dengan teori yaitu Penjelasan korelasional fakta interrelasi bermakna antara fakta-fakta.
Sedangkan kebenaran bagi positivisme sesuatu yang benar itu jika ada hubungan antara fakta yang satu dengan fakta yang lain. Secara  fenomenolistik: fenomena baru dikatakan benar setelah diuji korespondesninya dengan yang dipercayainya (belief). Pragmatisme (sudah sampai pada nilai) mengakui kebenaran bila faktual berfungsi.
Bagi realist benar substantif identik dengan benar ril obyektif, benar sesuai dengan konstruk skema rasional tertentu. Bagi reliasme metaphisik kebenaran itu bila yang faktual itu koheren dengan kebenaran obyektif universal. Yang pada dasarnya kebenaran terjadi apabila adanya hubungan kesesuaian antara pemikiran manusia dengan faktaTerdapat interrelasi yang runtut (konsisten) dengan pengetahuan sebelumnya yang dianggap benar, bersifat obyektif, logis.
b.      Instrumentatif
Telaah instrumentatif terdiri dari konfirmasi dan logika inferensi. Konfirmasi lebih mengharapkan sejauh mana eksplanasi atau prediksi dan interpretasi memberi kepastian kepada kita tentang sesuatu yang benar berlandaskan asumsi, postulat, atau axioma yang sudah dipastikan benar.
 Teori Konfirmasi Berusaha mencari deskripsi hubungan normatif antara hipotesis dengan evidensi. Konfirmasi kuantitatif dibangun berdasar hipotesis mengenai obyek yang diukur derajat konfirmasinya bersifat probabilitas; probabilitas dari hasil analisis frekuensi. Konfirmasi kualitatif Menekankan pada fenomenologis. Mencari esensi empirik dan mengungkapkan dengan bahasa yang penuh makna
 Logika Inferensi terdiri dari dua kata Logika yang berarti tata berpikir dan inferensi yang artinya suatu proses untuk menghasilkan informasi dari fakta yang diketahui. Dalam konseptual tradisional, logika tidak lain dari pada studi tentang relasi formal dalm jenis. Logika yang berkembang sampai sekarang adalah logika materiil yaitu logika yang menggunakan dasar inferensinya pada kebenaram materiil yang dibangun dari data materiil.
Dari bahasan mengenai obyek telaah filsafat ilmu dapat dibuat alurnya menjadi sebagai berikut :

Fakta     Kebenaran     Konfirmasi     Logika Inferensi     Konferensi     Ilmu

3.      Ontologi, Epistemologi, dan Axiologi serta Tinjauannya dalam Geografi
Dalam filasafat ilmu juga mempelajari tentang ontology, epistemology dan axiology berikut penjelasannya terkait bidang geografi :
a.       Ontologi
Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis ialah seperti Thales, Plato, dan Aristoteles. Pada masanya, kebanyakan orang belum membedakan antara penampakan dengan kenyataan.
Dan pendekatan ontologi dalam filsafat mencullah beberapa paham, yaitu:
1)      Paham monisme yang terpecah menjadi idealisme atau spiritualisme
2)      Paham dualisme, dan
3)      Pluralisme dengan berbagai nuansanya, merupakan paham ontologik.
Ontologi ilmu membatasi diri pada ruang kajian keilmuan yang bisa dipikirkan manusia secara rasional dan yang bisa diamati melalui panca indera manusia. Wilayah ontologi ilmu terbatas pada jangkauan pengetahuan ilmiah manusia. Sementara kajian objek penelaahan yang berada dalam batas prapengalaman (seperti penciptaan manusia) dan pasca pengalaman (seperti surga dan neraka) menjadi ontologi dari pengetahuan lainnya di luar iimu.
Beberapa aliran dalam bidang ontologi, yakni realisme, naturalisme, empirisme. Pada dasarnya obyek telaah ontology mengenai yang ada yang meliputi semua realitas intinya yaitu ‘apa yang akan dibahas’. Ontologi geografi yaitu objek material berupa atmosfer, litosfer, hidrosfer, biosfer, dan antroposfer ; objek formal berupa pendekatan keruangan, lingkungan, dan kewilayahan.
b.      Epistemologi
Epistemologi, yaitu berada dalam wilayah pengetahuan. Kata Epistemologi berasal dari Yunani, yaitu episteme yang artinya cara dan logos yang artinya ilmu. Dengan demikian, epistemologi dapat diartikan sebagai ilmu tentang bagaimana seorang ilmuwan akan membangun ilmunya.
Epistemologi lebih menyelidiki asal, sifat, metode, dan batasan pengetahuan manusia, atau lebih kepada’bagaimana cara memperoleh pengetahuan’. Langkah dalam epistemology antara lain berpikir deduktif dan induktif atau sering kita kenal dengan metode ilmiah. Berpikir deduktif memberikan sifat yang rasional kepada pengetahuan ilmiah dan bersifat konsisten dengan pengetahuan yang telah dikurnpuikan sebelumnya. Epistemologi meliputi hakekat pengetahuan, sumber pengetahuan dan metode pengetahuan. Epistemologi adalah suatu pengetahuan yang berkaitan dengan cara memperoleh pengetahuan atau metode keilmuwan.
Sebelumnya pada ontology Geografi lebih kepada objek kajian geografi, berdasarkan hal itu epistemology yang akan mencari jawaban atas pertanyaan dari mana asal-usul alam semesta dilihat dari objek kajian geografi yang terdiri dari objek formal dan material secara sistematis, empiris, dan dapat diuji kebenarannya.
c.       Aksiologi
Aksiologi berasal dari kata axios yakni dari bahasa Yunani yang berarti nilai dan logos yang berarti teori. Dengan demikian maka aksiologi adalah “teori tentang nilai” (Amsal Bakhtiar, 2004: 162). Aksiologi diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh.
Aksiologi diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh. Aksiologi dikenal dengan teori nilai atau ilmu yang mempertanyakan tujuan dari mempelajari ilmu itu sendiri. Aksiologi dipahami sebagai teori nilai dalam perkembangannya melahirkan sebuah polemik tentang kebebasan pengetahuan terhadap nilai atau yang bisa disebut sebagai netralitas pengetahuan (value free). Sebaliknya, ada jenis pengetahuan yang didasarkan pada keterikatan nilai atau yang lebih dikenal sebagai value bound.
Aksiologi geografi meliputi Subjektivisme atau kegunaannya bagi manusia ; Obyektifisme logis atau hasil percobaan, pengukuran, bersifat empiris ; Jenis nilai etika dan estetika.

4.      Positivisme, Post-Positivisme, Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif Geografi
Bahasan berikut mengenai Positivisme, Post-Positivisme, Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif Geografi. Positivisme adalah aliran dari filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisik atau ilmu pngetahuan yang berhubungan dengan hal-hal yang non fisik atau tidak kelihatan.
Dalam hal ini positivism tidak mengenal adanya spekulasi tapi harus berupa data empiris. Positivisme merupakan empirisme, yang dalam segi-segi tertentu sampai kepada kesimpulan logis ekstrim karena pengetahuan apa saja merupakan pengetahuan empiris dalam satu atau lain bentuk, maka tidak ada spekulasi dapat menjadi pengetahuan
Sedangkan Post-Positivisme berkebalikan dengan Positivisme. Jika positivism lebih berdasarkan data empiris maka Post-positivisme cenderung menggunakan konsep kebenaran subjektif atau mengenai pandangan sendiri, natural dan lebih manusiawi. Beberapa asumsi dasar post-positivisme :
1.      Fakta tidak bebas melainkan bermuatan teori
2.      Falibilitas teori ; Tidak satu teori pun yang dapat sepenuhnya dijelaskan dengan bukti-bukti empiris, bukti empiris memiliki kemungkinan untuk menujukkan fakta anomali
3.      Fakta tidak bebas melainkan penuh dengan nilai
4.      Interaksi antara subjek dan objek peneliti ; Hasil penelitian bukanlah reportase objektif melainkan hasil interaksi manusia dan semesta yang penuh dengan persoalan dan senantiasa berubah
Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif memiliki kaitannya dengan positivism dan post-positivisme. Pendekatan kuantitatif mementingkan adanya variabel-variabel sebagai obyek penelitian dan variabel-variabel tersebut harus didefenisikan dalam bentuk operasionalisasi variable masing-masing. Reliabilitas dan validitas merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi dalam menggunakan pendekatan ini karena kedua elemen tersebut akan menentukan kualitas hasil penelitian dan kemampuan replikasi serta generalisasi penggunaan model penelitian sejenis.
Pendekatan kuantitatif dapat dikaitkan dengan positivime karena kuantitatif berarti metode penilaian yang menggunakan alat-alat atau instrument untuk mengukur gejala-gejala tertentu dan diolah secara statisitk atau berupa angka-angka hal ini berkaitan dengan positivism sendiri yang lebih menekankan pada data empirik, pendekatan kuantitatif tidak dapat dijalankan dengan paradigm post-positivisme karena pendekatan kuantitatif merupakan bebas nilai sedangkan post-positivime yaitu tidak bebas nilai.
Sementara penelitian kuantitatif lebih banyak menggunakan logika hipotetiko verifikatif. Pendekatan tersebut dimulai dengan berpikir deduktif untuk menurunkan hipotesis, kemudian melakukan pengujian di lapangan. Kesimpulan atau hipotesis tersebut ditarik berdasarkan data empiris. Dengan demikian, penelitian kuantitatif lebih menekankan pada indeks-indeks dan pengukuran empiris. Peneliti kuantitatif merasa “mengetahui apa yang tidak diketahui” sehingga desain yang dikembangkannya selalu merupakan rencana kegiatan yang bersifat apriori dan definitive.
Pendekatan kualitatif menekankan pada makna, penalaran, definisi suatu situasi tertentu (dalam konteks tertentu), lebih banyak meneliti hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan kualitatif, lebih lanjut, mementingkan pada proses dibandingkan dengan hasil akhir; oleh karena itu urut-urutan kegiatan dapat berubah-ubah tergantung pada kondisi dan banyaknya gejala-gejala yang ditemukan. Tujuan penelitian biasanya berkaitan dengan hal-hal yang bersifat praktis. Pendekatan kualitatif dikaitkan dengan post-positivime karena lebih menerangkan berdasarkan cara pandang.
Penelitian kualitatif lebih banyak ditujukan pada pembentukan teori subtantif berdasarkan konsep-konsep yang timbul dari data empiris. dalam penelitian kualitatif, penelitian merasa “tidak tau mengenai apa apa yang hendak diketahuinya”, sehingga desain penelitian yang dikembangkan selalu merupakan kemungkinan yang terbuka akan berbagai perubahan yang diperlukan dan lentur terhadap kondisi yang ada di lapangan pengamatannya.
Penelitian kualitatif dalam aliran postpositivisme dibedakan menjadi dua yaitu penelitian kualitatif dalam paradigma phenomenologi dan penelitian kualitatif dalam paradigma bahasa. Penelitian kualitatif dalam paradigma phenomenologi bertujuan mencari esensi makna di balik fenomena, sedangkan dalam paradigma bahasa bertujuan mencari makna kata maupun makna kalimat serta makna tertentu yang terkandung dalam sebuah karya sastra.
Dalam mengkaji geografi tidak boleh hanya menggunakan satu pendekatan misalnya pendekatna kuantitaif karena data yang berupa angka dan pengolahan matematis tidak dapat menerangkan kebenaran secara meyakinkan. Oleh karena itu peril digunakan juga pendekatan kualitatif.
Contoh nyatanya yaitu berkaitan dengan objek material geografi salah satunya atmosfer,  jika kita menghitung jumlah awan di langit dalam okta untuk keperluan meramalkan cuaca tentu secara pendekatan kuantitatif dengan membagi langit menjadi 4 kuadran yang kemudian mendapatkan nilai persepuluh yang kemudian dikonversi ke okta atau perdelapan misalkan 1/8 maka kita memperoleh data awan secara kuantitatif yaitu 1/8, untuk pendekatan kualitatifnya maka nilai okta awan tersebut diklasifikasikan berdasarkan kondisi langit yaitu 1/8 langit cerah, 3/8 berawan sebagian, dst.

2 komentar:

  1. Lucky Club Casino Site - Login, Play & VIP Rewards - Lucky Club
    Enjoy the most exciting casino slots at Lucky Club Casino. Get top bonuses, promotions, luckyclub.live and loyalty programs at Lucky Club casino.

    BalasHapus
  2. How to win with Lucky Club Casino Site
    Lucky Club Casino will give you chances to luckyclub.live win the jackpots on your favorite sports. No deposit free bets on Lucky Club are allowed, but only for

    BalasHapus